Di Ujung Labirin

Ia meneguk minumannya  pelan  sambil memandang keluar jendela kamarnya. Tiupan angin membuat pepohonan di samping rumah Kafa bergoyang lembut, bak penari keraton. Hembusan angin itupun menyibakkan rambut depan Kafa. Ia lantas memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam, seraya menikmati sejuknya angin di bulan Juni.

Laki-laki yang kerap dipanggil Afa ini merupakan anak terpandang di komplek rumahnya. Benar sekali, Afa sangat beruntung dilahirkan dikeluarga kaya tanpa kurang uang sedikitpun. Ayahnya seorang DPR yang selalu sibuk dengan rapat dan sistem kerja dipemerintah. Sedangkan Ibunya seorang desainer baju-baju mewah yang kerap menghabiskan waktunya di butik.

Afa memalingkan muka, dia melihat sekeliling kamarnya. Benda-benda yang biasanya berjejer rapi di dalam lemari kacanya tidak ada. Semua barang-barang peninggalan kakek hilang.

Afa baru menyadari hal itu. Ia terkejut, seketika ia meloncat dari tempat duduknya. Berdiri dan memandang sekeliling. Mencoba memastikan apakah hanya barang-barang peninggalan kakek yang hilang, atau ada barang lainnya lagi.

Kening Afa berkerut samar. Ia berpikir keras. Afa bukan tipekal orang yang gampang menuduh dan curiga terhadap orang lain. Ia masih berusaha mencari barang-barang peninggalan kakeknya di setiap sudut kamarnya. Ia merangkak melihat disetiap kolong kamarnya. Namun, tetap tidak membuahkan hasil, barang-barang itu lenyap entah kemana. Tiba-tiba Cika menyelinap masuk kedalam kamar Afa.

“Kak Afa, ngapain sih? Lagi mainan kuda-kudaan ya, ” tanya Cika sambil tertawa.

Afa, kaget melihat adik satu-satunya itu tiba-tiba saja berdiri dibelakangnya.

“Cika, kamu bisa ngak ketuk pintu dulu,” sahut Afa.

“Pintu kakakkan kebuka, ya udah Cika masuklah,” Jawab Cika sembari duduk diujung tempat tidur.

“Kamu selalu pinter jawab ya, kalau dikasih tahu. Ada apa sih?” Jelas Afa.

Cika tidak menjawab pertanyaan dari kakaknya. Cika dengan pelan mulai merebahkan tubuhnya di sudut kasur kakaknya. Memandang langit-langit kamar yang membawanya keingatan setahun yang lalu. Suasana kamar itupun hening. Lantas Afa mulai memahami kenapa adiknya termenung diam di atas kasur bekas kakeknya tidur.

“Cika ingat bagaimana kakek sering becerita tentang ayah dan ibu dikasur ini kak ” ujar Cika.

“Sudah deh, Cik” sahut Afa.

“Kakek sudah tenang disana, dia tidak lagi merasakan pusing dengan perlakuan orang tua kita,” lanjut Afa.

“Apakah hanya Cika yang merasa bahwa kakek masih disini?” tanya Cika.

“Tentunya tidak, kakak juga merasakan itu. Hanya kakek yang bisa memahami kita, ” jawab Afa.

Seketika Cika membalikan badannya dan mulai mengalirkan butiran air mata mengenang suasana bahagia bersama kakeknya. Afa berdiri, menuju ke Cika dan mencoba untuk menenangkan adiknya itu. Kepergian kakek setahun yang lalu, memang membuat kedua anak ini down. Kakek yang memberikan kasih sayang melebihi orang tuanya itu, membuat mereka  sangat terpukul. Terlebih setelah kepergian kakek, orang tuanya tidak berubah sedikitpun yang selalu meninggalkan mereka dirumah sendiri bersama bibi Ami, pembantu yang merawat Afa dan Cika dari kecil.

20.30, ayah dan ibu pulang.

“Tiin…tiin…tiin”, suara klakson mobil terdengar didepan gerbang rumah Afa. Bibi Ami berlari menuju gerbang, untuk membukakan gerbang ayah dan ibu Afa. Kepulangan kedua orang tuannya itu merupakan moment paling tidak diharapkan Afa dihidupnya. Bukan kasih sayang dan perhatian yang didapatkan setelah seharian sendiri dirumah, namun tuntutan demi tuntutan yang diberikan oleh kedua orang tuannya.

“Afa dan Cika sudah tidur, bik?” tanya mama.

“Non Cika sudah tidur, bu ” jawab bibi Ami.

“Afa masih diruang baca?” sahut ayah.

“iya pak” jawab bibi Ami lagi.

Kebiasaan Afa yang selalu menghabiskan waktunya di ruang baca kakek setiap malamnya. Bahkan dia sering tertidur hingga pagi di kursi goyang kesayangan kakeknya. Tiba-tiba pintu terbuka. Afa tahu pasti itu ayah atau ibunya, karna bibi Ami selalu mengetok pintu dulu sebelum masuk. Tanpa pikir panjang, Afa segera berdiri, menuju salah satu rak lemari  dan mengembalikan buku yang sedang asyik dibacanya. Ia lantas melewati ayahnya tanpa sepatah apapun.

“Tunggu, Afa” ujar ayah sambil memegang pundak anak pertamanya itu.

“Afa capek, mau tidur,” sahut Afa.

“Bagaimana dengan nilaimu disekolah? Bagaimana dengan ujian beasiswamu ke luar negeri?” tanya ayah.

Betul sekali. Bukan pertanyaan itu yang Afa inginkan. Tuntutan yang dibugkus dengan pertanyaan perhatian seperti itu setiap hari Afa dengarkan. Kedua orang tuanya sibuk dengan masa depan Afa, tanpa mau memperhatikn proses bagaimana dia sendirian untuk dapat menyenangkan pikiran-pikiran orang tuanya.

Afa, membalikan badan menghadap ayahnya. Afa tersenyum sinis. Menatap kedua bola mata ayahnya dengan penuh protes.

“Afa sudah makan yah. Afa sehat”  ujar Afa.

Afa lantas segera pergi meninggalkan ayahnya diruang baca sendirian. Dari kecil kedua orang tuanya sibuk bekerja. Ketika Afa sakitpun hanya kakek yang menemaninya. Tuntutan pekerjaan membuat orang tuanya lupa bagaimana psikolagi anaknya, bahkan menanyakan sudah makan atau belum saja tidak pernah.

Ayah Afa menarik nafas dalam-dalam dan mengebuskan pelan. Ayah kafa mulai menyadari bahwa anaknya sudah tumbuh dewasa. Ayah berpikir sudah tidak waktunya lagi memberikan  perhatian kecil seperti  yang Afa inginkan. Segera ayah menutup pintu ruang baca dan berjalan menuju kamar tidurnya.

Setiap malam rumah afa selalu terlihat sunyi. Seperti tidak ad kehidupan, semua masuk kedalam kamar masing-masing yang telah dilengkapi dengan fasilitas yang luar biasa. Tidak pernah ada bercanda bersama seperti dulu ketika kakek masih hidup.

Afa mulai memejamkan matanya, rasa kantuk membuatnya terlelap pelan-pelan. Seketika pikirannya dibawa keingatan tentang barang-barang milik kakeknya yang hilang. Matanya mebelalak, Afa tahu hilangnya barang-barang kakek pasti perbuatan ayahnya. Lantas Afa segera menuju kamar ayah dan ibunya.

Afa mengetok pintu dan memanggil ayahnya dengan sedikit teriakan.

“Ayah, buka. Afa mau bicara. Ayah buka” teriakan Afa.

Ayah dan ibu yang mulai terlelap, mendadak bangun karna kaget dengan gedoran pintu disertai teriakan Afa dari luar. Ayah dan ibu berdiri dan membukakan pintu.

“Afa, kamu tahu ini jam berapa?” tutur ibu.

Tanpa memedulikan ibunya, Afa langsung masuk kamar dan mencoba mencari arlogi peninggal kakeknya itu. Afa membuka-buka laci milik kedua orang tuanya itu.Ayah Afa mulai kebingungan dengan sikap anaknya yang terkesan tidak punya sopan satun.

“Apa yang kamu cari, Afa?” bentak ayah.

“Arlogi kakek ayah taruh mana, kembalikan ke Afa” sahut Afa sambil mebuka lemari baju ayahnya.

Terdapat 3 Arlogi peninggalan kakeknya. Arlogi itu sangat berarti untuk Afa. Kakek menitipkan arlogi itu kepadanya untuk tidak dijual. Betul sekali, kedua orangtua Afa berniat untuk menjual arlogi itu, karna mempunyai harga yang fantastis bersarnya. Kejadian itu sudah terjadi beberapa bulan yang lalu, sempat terjadi perdebatan panjang. Akhirnya ayah dan ibu mengurungkan niatnya untuk menjual arlogi itu, karna Afa mengancam tidak akan mau sekolah lagi jika arlogi itu benar-benar dijual.

“Ibu tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini ya Afa, kamu tidak sopan” tutur ibu.

Mendengar perkataan ibu. Afa tiba-tiba berhenti dan membalikan wajahnya. Dengan perasaan marah dan sedih, ia membalas perkataan dari ibunya itu.

“Afa memang tidak pernah diajarkan sopan satun sama ibu. ibu hanya sibuk dengan uang tanpa memikirkan aku dan Cika. Ibu lupa?” jelas Afa kepada ibunya.

Tak sadar, Afa telah meneteskan air matanya. Sesak didada yang Afa rasakan membuatnya semakin marah dengan keadaan keluarga yang tidak harmonis ini. Afa tidak sengaja menyenggol kota kayu kecil di dalam lemari ibunya. Kotak itupun terjatuh dan ternyata arlogi yang Afa cari ada didalamnya. Afa terbelalak kaget, ternyata benar ibu mengambilnya diam-diam didalam lemari kaca Afa.

“kapan kamu ambil arlogi itu, bu” tanya ayah.

Ibu tidak mengubris pertanyaan dari suaminya. Ibu langsung berlari menuju Afa yang masih terduduk memandang ketiga arlogi itu.

“Afa, ibu bisa jelaskan”, sahut ibu sambil memegang pundak anaknya.

“Apakah ibu masih kurang puas dengan uang yang ibu kumpulkan itu, sampai ibu mau menjual benda yang paling berharga bagiku. Apakah ibu masih tidak cukup puas sudah melukai hati anakmu waktu itu?” jelas Afa dengan suara terbata-bata.

“Ibu hanya-” jawab ibu yang ingin menjelaskan permasalahan itu, namun segera dipotong oleh ayah.

“Sudah bu, sudah cukup malam ini. Semua pikiran masih memanas. Tidak akan selesai. Afa, cepat bawa arlogi itu dan kembali ke kamarmu” tegas ayah kepada istri dan anaknya.

Lantas Afa langsung meninggalkan kamar itu, tanpa sepatah katapun. Afa mencoba untuk melupakan ini semua. Seperti kata kakek yang selalu Afa ingat. Setiap terjadi masalah dan perdebatan, jadilah sebagai air yang bisa mendinginkan suasana, maka hatimu akan bisa cepat tenang dan pikiranmu akan lebih mudah untuk di ajak berpikir jernih. Kafa mulai memejamkan matanya. Dan terlelap tidur bersam arlogi disampingnya.

Setelah kejadian itu, ibu meminta maaf kepada Afa dan berjanji tidak lagi berniat menjual arlogi milik kakeknya itu. Suasana rumah Kafa semakin sepi. Semakin tidak ada komunikasi sehat di dalam keluarga Afa. Hanya ayah yang sering mengingatkan Afa untuk terus belajar agar dapat lolos ujian beasiswa keluar negerinya.

Kafa terlahir kedunia dengan kecerdasan otaknya. Sedari  kecil selalu mendapatkan nilai bagus walaupun tidak ada orang yang mengajarinya. Kekawatiran ayah di masa pandemi ini membuat ayah semakin memberikan tuntutan yang lebih. Hal tersebut membuat Afa sering frustasi dan melampiaskannya ke ruang baca. Dia bahkan sering membaca dari pagi sampai malam. Pandemi dan tuntutan ayah akan prestasi, membuat kafa menjadi seorang kutu buku. Namun, hal tersebut yang membuat Afa semakin memiliki pengetahuan yang luas.

Kafa tidak suka bermain game. Dia berhenti setelah kakeknya membuatkan ruang baca dirumahnya setahun lalu. Ditempat itu, Afa sering menghabiskan waktunya bersama kakek, bercerita dan bertukar pikiran tentang kehidupan.

Kafa memilih untuk melampiaskan kekesalan dan kesepiannya kedalam ruang baca. Dia tidak ingin memilih game karna itu hanya membuang-buang waktu saja tanpa ada sesuatu hal baik yang masuk didalam otaknya. Dia menyadari sampai dewasapun keluarganya akan tetap seperti ini. Hanya Afa sendiri yang bisa menentukan untuk membawa dirinya ke jalan negatif atau positif.

2 bulan kemudian, dengan suasana rumah yang sama. Tanpa ada keramaian sedikitpun, Afa berhasil lolos ujian beasiswa ke London. Hal tersebut disambut bahagia oleh ayahnya.  Kafa tidak perlu memusingkan kesendiriannya nanti di London nanti, karena hal tersebut sudah dia lalui 2 tahun belakangan ini.

(keluarga itu seperti labirin. Tempat yang penuh dengan jalan dan lorong yang berliku-liku. Kita harus terus berjalan untuk dapat melewatinya. Kita harus gunakan pikiran jernih agar dapat bersabar melewati permasalahan dalam keluarga. Jadikan permasalah sebagai tantangan untuk menuju akhir yang membahagiakan. )

Surabaya, 3 Februari 2021

Karya : Diah Ayu Pitaloka, S.Pd.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Berita Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru:

GENERASI MUDA

karya: Azzahra Alma Luna (VIII-B) Pemuda adalah harapan masa depan

Di Ujung Labirin

Ia meneguk minumannya  pelan  sambil memandang keluar jendela kamarnya. Tiupan