Cerpen “Serpihan Maaf Untuk Bunda”

Karya : Nadira Hardiana D.P (8B)

Kutatap langit sore yang tak secerah kemarin. Matahari tampaknya masih malu-malu untuk memperlihatkan wujudnya. Iaterus-terusan menyembunyikan dirinya dibalik awan seharian ini.

“Ser, belum dijemput ?mau bareng?” ajak Alena, teman kelasku. “Enggak Len, kamu duluan aja, bentar lagi bundaku jemput kok” jawabku. “oh, oke duluan ya, dadah” aku hanya melambaikan tangan padanya.Semoga saja bunda benar-benar menjemputku setelah ini.

‘Ting’ terdapat pesan masuk pada handphoneku, dengan cepat ku buka pesan tersebut.

“ Serina, hari ini Bunda gak bisa jemput kamu lagi, kamu naik bus saja ya?” mendadak aku menyesal tidak menerima ajakan Alena. Aku buru-buru menuju halte bus karena gerimis mulai turun.

Setibanya di rumah aku segera membersihkan diri dan mengganti baju.Karena tidak terdapat makanan di meja makan, aku memutuskan untuk memasak mie instan, setidaknya perutku bisa berhenti berdemo meminta makan.

Selesai makan, aku kembali ke kamarku.Tugas-tugas sekolah sudah menunggu.Beres dengan tugas, aku menyalakan televisi.Suasana rumah ini bisa dikatakan sunyi.Semenjak ayah pergi rumah ini serasa tak hidup. Bunda yang kadang pulang tengah malam atau malah lembur di kantor seharian. Paginya bunda harus berangkat ke kantor lagi. Kami menjadi jarang mengobrol.Aku merasa iri pada teman-temanku yang masih memiliki keluarga yang utuh.

Pukul 11 malam

Aku sudah berusaha untuk memejamkan mataku tetapi itu tidak berhasil. Aku tidak merasa mengantuk sama sekali. Mungkin segelas susu hangat dapat membuatku mengantuk.

“Serina, sudah jam berapa ini?! Cepat pergi tidur!” suara bunda  mengagetkanku yang sedang minum. “Tapi bun-“ “cepat pergi tidur!!!” aku segera  kembali ke kamar dengan tergesa-gesa.

Keesokan paginya…

“Serina sarapan di sekolah  ya, Bunda harus berangkat lebih pagi” aku hanya mengangguk saja. “Tapi nanti bunda bisa jemput  Serina pulang kan?”tanyaku. “Tidak bisa, kamu naik bus lagi saja”.Seharusnya aku tidak terlalu berharap. Tidak ada yang membuka percakapan sama sekali setelah itu.

Sesampainya di sekolah, aku langsung memasuki kelas. Aku duduk di bangku paling depan dekat dengan jendela.Mengamati pemandangan hijau yang menenangkan.

“Hai Rin” sapa Alena disertai senyum manisnya, “hai”balasku. “sudah mengerjakan PR?”ucapnya membuka topicpercakapan kami “sudah, kamu Len?” tanyaku balik. “Sudah dong”.

Kringg… bel tanda mulainya pelajaran sudah dibunyikan.

“Teman-teman, hari ini tidak ada pelajaran, tapi Bu Valerie menyuruh kita untuk berdiskusi, siapa yang akan mewakili kelas kita untuk bernyanyi dan membaca puisi saat hari Ibu nanti. Ada yang ingin menyalonkan diri?” tanya Amber, ketua kelasku.

Hening,tidak ada yang menjawab pertanyaan  Amber sama sekali.

“Aku akan membaca puisi, dan Serina yang akan menyanyi” usul Alena tiba-tiba. “Ta-tapi suaraku tidak bagus”tolakku “Kata siapa?, saat bernyanyi di kelas musik kemaren saja kamu yang mendapat nilai tertinggi, harus ikut pokoknya ya, plis. Sekalian ngasih kejutan buat Bundamu lho Rin” Alena memohon padaku tapi malah terdengar seperti memaksa.

“Iya Rin, suaramu bagus kok, bukan bagus lagi sangat bagus malahan, kamu pasti bisa” seru teman-teman sekelasku.

 “Oke berarti Alena membaca puisi dan Serina bernyanyi, tidak ada penolakan , kalian isi form ini lalu jika sudah berikan padaku ya, semangat Len, Rin” ucap Amber sambil menyerahkan selembar Formulir kepadaku dan Alena.

Sebenarnya aku tak ingin tapi aku harus melakukan yang terbaik demi kelasku dan untuk Bunda.

Waktu istirahat pun tiba.Aku beranjak pergi ke kantin.Perutku sudah sangat lapar.Setelah mendapatkan menu makanan hari ini aku mencari tempat duduk yang kosong. Aku menikmati makanan ini, jika sudah lapar tidak akan ada lagi namanya makanan enak maupun tidak.

“Rin, aku boleh duduk disini?” sengaja aku tidak menjawab pertanyaan Alena.Aku ingin berpura-pura marah.

“kamu marah ya Rin? Maaf ya.Aku Cuma pengen kamu gak jadi pendiam terus” jelasnya.Aku masih tidak menjawab.

“Ya sudah kalo gak boleh aku cari meja lain deh”Alena mulai menyerah. “Emang siapa yang marah?” aku jadi tidak tega, maaf ya Len. “Akhirnya, Kamu marah sama aku Rin?” “Enggak Len, kataku” “Sungguh? Oh iya mau latihan bersama saat pulang sekolah nanti?” sebenarnya aku ingin tapi, “Tidak tau Len, nanti kutanyakan bunda dulu ya” aku tidak ingin memberikan janji yang tidak pasti.

Pulang Sekolah pun tiba. Aku meminta izin kepada bunda untuk  latihan bernyanyi lewat pesan. Tidak lama kemudian pesan itu dibalas “Tidak boleh”. Aku membuang nafasku kasar. “Len, aku akan latihan sendiri saja.maaf ya” sesalku pada Alena.

“gak papa kok Rin, kamu dijemput bunda kan?”ah iya, bunda tidak menjemputku lagi. “Eh, enggak Len, aku pulang naik bus”

“Mau pulang bersamaku?” tawarnya “tidak Len, aku duluan ya bus nya akan segera pergi, dah”aku cepat-cepat menaiki bus sebelum tertinggal, ini adalah bus terakhir yang beroperasi hari ini.

Aku merenung  kenapa Bunda selalu saja melarangku untuk pergi ke rumah teman. Bermain ke luar saja aku tidak pernah.Apa salahnya sih?Aku merasa seperti terkurung, hanya boleh pergi saat sekolah dan keluar saat itu benar-benar penting.Aku merasa tertekan.

Sekarang aku sedang fokus pada layar laptopku. Aku akan memilih lagu yang akan ku nyanyikan di hari ibu 5 hari lagi. dan pilihanku jatuh kepada lagu’ Ibu’ karya Rara Tarmizi yang terkenal setelah dilantunkan oleh penyanyi religious Hadad Alwi.

4 hari sudah kulalui, aku telah berlatih semaksimal mungkin. Aku menaruh surat undangan acara besok di depan televisi.

Kebetulan sekali bunda pulang lebih awal hari ini.Aku membantu Bunda memasak makan malam. “Bun, Serina boleh tanya?” “tanya saja” kata Bunda. Aku pikir sekarang inilah kesempatanku.

aku mengambil nafas  dalam-dalam“kenapa Bunda selalu ngelarang Serina buat main diluar? Kenapa Bunda selalu ngelarang kalo Serina mau kerja kelompok?Terakhir, Kapan Bunda punya waktu lagi buat Serina?” aku mengeluarkan semua isi hatiku yang kadang membuatku tidak nyaman.

Bunda menghentikan kegiatan makannya. “Ini demi kebaikanmu Rin, soal waktu Bunda sangat sibuk, pekerjaan tidak bisa ditinggalkan”

“Tidak bisakah Bunda meluangkan waktu untuk hadir di acara hari Ibu besok? Serina akan tampil, Bunda tidak bisa datang sebentar?sekali ini saja, bisa ya bun, orang tua teman-teman Serina datang semua, Bunda masak  gak datang?” isakku terus memohon.

“PLAK”

Bunda menamparku?

“Sudah bunda bilang, bunda sibuk!Apa kamu tidak mengerti arti kata SIBUK, Rin?!” Amarah bunda memuncak.“ kamu mau jadi anak nakal huh? Justru di rumah itu, kamu terhindar dari pergaulan bebas diluar sana”

“BUNDA GAK PERNAH NGERTIIN SERINA, AKU BENCI BUNDA, JANGAN CARI SERINA” aku berlari secepat mungkin menghiraukan bunda yang memanggilku.

Aku duduk di ayunan taman perumahan.  Tangisanku pecah disana. Aku akan pulang kerumah nanti. aku masih ingin menikmati anginmalam disini.

Matahari telah menampakkan sinarnya kembali pagi ini.Aku sudah berada di sekolah dari 20 menit yang lalu.Tadi malam bunda berhasil menemukanku, dan menyuruhku pulang. Aku bangun lebih awal tadi pagi lalu naik bus ke sekolah.  Aku hanya memakan  dua lembar roti.

Alena sedang melantunkan puisi buatannya.Puisi itu mengingatkanku pada bunda. Bunda pasti datang kan? Batinku.

“Baik, kita saksikan penampilan selanjutnya Serina Ailen yang akan menyumbangkan suara emasnya lho, tepuk tangan semuanya”menurutku MC itu terlalu melebih-lebihkan, suaraku biasa saja rasanya.

Aku menatap semua tamu undangan yang hadir.Kira-kira sudah kulakukan lebih dari 10 kali.Oh ayolah Rin, bunda bilang tidak akan datang kan? Jangan mengharapkannya lagi.

“Hai semua, aku mempersembahkan lagu ini untuk seluruh Ibu yang ada dunia terkhusus untuk Ibuku”.Alunan musik sudah dimulai.Kejadian demi kejadian saat bersama bunda mulai terputar di otakku.

“Bersinar kau bagai cahaya Yang selalu beriku penerangan Selembut sutra kasihmu kan Selalu kurasa dalam suka dan duka Kaulah ibuku cinta kasihku Terima kasihku takkan pernah berhenti Kau bagai matahari yang selalu bersinar Sinari hidupku dengan kehangatanmu”

Aku menyanyikan lagu tersebut sampai selesai, tidak ada halangan sama sekali. Aku hanya ingin bunda datang.

Ditengah-tengah nyanyianku, kursi kosong di belakang sudah diisi oleh seseorang perempuan.Sepertinya perempuan tersebut datang terlambat. Tapi lebih bagus terlambat kan daripadatidak datang sama sekali? Tetapi dia memberikan semangat untukku. Apakah dia… BUNDA.

Bunda langsung memelukku setelah aku turun dari panggung.Aku sempat melihat Alena menangis tadi, entah karena lagu yang kunyanyikan atau terkena debu.

“Kamu hebat nak, bunda gak ngira kalo suaramu sebagus itu, maafin bunda ya udah nampar kamu kemarin” bunda memelukku erat.

“ Bunda, Serina mau bilang sesuatu… Selamat Hari IBu. Semoga bunda selalu sehat, Serina mau minta maaf karena selama ini.Serina gak pernah ngertiin bunda, maaf Serinabentak bunda kemaren, maaf selama ini Serina belum ngasih yang terbaik buat bunda, maaf kalo Serina gak nurut sama bunda, Serina Egois, maaf bunda maaf, Serina janji gak akan lari dari rumah lagi, gak akan bentak bunda lagi, maaf bun maaf” aku merasa sangat bersalah. Bunda sibuk bekerja demi kehidupanku.Permintaan maaf ini tidak sebanding dengan perjuangan bunda yang lebih besar.“Aku sayang Bunda”.

“Perjuangan seorang Ibu tidak sebanding dengan apapun, mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan kita, membesarkan kita, mengobati kita saat sakit, untuk itu JANGAN PERNAH MENYAKITI HATI seorang IBU”

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Berita Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru:

GENERASI MUDA

karya: Azzahra Alma Luna (VIII-B) Pemuda adalah harapan masa depan

Di Ujung Labirin

Ia meneguk minumannya  pelan  sambil memandang keluar jendela kamarnya. Tiupan