Aku Hanya Sekadar Wayang

“Kamu masih belum mendapatkan kabar darinya?” tanya Agi sembari membersikan sisa-sisa makan siangnya.

                “Belum,” sahut Koko dengan nada cemas. Ia berdiri melipatkan kedua tanganya. Matanya memandang terus ponsel di meja kantin itu. Perasaan Koko semakin tidak karuhan. Ia mengambil ponsel itu, kemudian mencari nama Inara untuk berniat menghubunginya lagi. Koko memindahkan ponsel dari telinga kiri ketelinga kanan. Jari-jari tangannya terus bergerak memukul-mukul kecil meja kantin.

                “Sabar dulu, Ko. Mungkin dia lagi di jalan” ujar Agi.

                “Ini sudah 30 menit lebih, gi. Seharusnya dia sudah sampai dong,” jawab Koko.

                Koko semakin cemas. Dadanya semakin sesak tidak karuan. Membayangkan hal-hal yang bisa membahayakan sepupunya itu. Kepindahan Inara ke Surabaya membawa kepedihan sendiri didalam hidupnya. Koko tidak ingin Inara masih merasa terancam di Kota ini.

                Koko adalah sosok sahabat Agi dan sepupu Inara yang sangat perhatian. Ia terlahir dikeluarga terpandang di Surabaya. Kecerdasan otaknya membuat dia sukses mendapat  banyak teman di sekolahnya. Selain paras wajahnya yang rupawan, Koko suka membantu temannya yang sedang kesusahan. Dia tidak suka melihat temannya menderita. Sama seperti Inara, sepupu yang awalnya tinggal di Jakarta, harus rela pindah ke Surabaya karna orang tuannya bercerai.

                “Kita harus pergi sekarang deh, gi” ucap Koko.

                “Sabar dulu, ko. Bukannya tadi Inara bilang kalau dia akan menghubungi kita dulu” tutur Agi.

                “Tapi dia tidak bisa dihubungi, gi. Sudah ayo cepat habisan makananmu” sahur Koko.

                Bel sekolah memang sudah berakhir dari satu jam yang lalu. Mereka selalu makan siang dulu dikantin sebelum pulang sembari membicarakan hobi-hobi yang mereka geluti. Setelah Agi selesai menghabiskan makannya. Mereka berdua memutuskan untuk menyusul Inara menemui ayahnya di sebuah cafe di pusat Kota Surabaya.

                Inara mengalami kekerasan waktu dia masih di Jakarta. Ia selalu menjadi bahan pelampiasan amarah orang tuanya. Sampai akhirnya bercerai, Inara memilih tinggal bersama kakek dan neneknya di Surabaya. Inara memilih untuk hidup jauh dari kedua orangtuanya yang sama-sama sering memukul dan menyakiti hati Inara.

                Koko dan Agi, telah sampai di Cafe tempat Inara dan ayahnya bertemu. Koko segera membuka pintu Cafe dan mencoba mencari keberadaan Inara. Ia tidak menemukan Inara. Agipun mencoba mencari disekitaran Cafe tersebut, tiba-tiba matanya menyipit. Ia melihat sosok gadis sedang duduk meringkuk dengan tanggisan diwajahnya. Agi lantas memanggil Koko dan membawanya ke gadis itu.

                Benar. Gadis itu Inara.

                Hati Koko hancur. Dia tidak tega melihat sepupunya seperti ini. Koko mencoba menenangkan Inara. Ia membelai rambut Inara dengan lembut.

                “Tenang, Ra. Aku dan Agi disini kok,” ucap Koko.

                “Maafkan aku yang selalu merepotkan kalian” jawab Inara lirih.

                “Ini sudah menjadi kewajiban kita dong sebagai sahabat kamu,” sahut Agi.

                Innara memberikan senyuman manis disudut bibirnya. Lantas segera membersihkan air mata yang membahasi pipinya.

                “Sudah lebih tenang kan? Ayo kita beli minum dulu,” Ujar Koko.

                “Tapi kamu kan yang bayarin, Ko?” sahut Agi dengan nada memelas.

                Inarapun tertawa melihat tingkah lucu sahabatnya itu. Semenjak Inara pindah ke Surabaya. Mereka bertiga sudah berjanji untuk menjadi sahabat yang saling membantu satu sama lain.

                “Ayah, mau nikah lagi,” tiba-tiba saja Inara melontarkan kalimat itu. Seketika mata Koko dan Agi terbelalak mendengar kalimat yang keluar dari bibir Inara.

                “Memang sudah gila tuh orang”, sahur Agi.

                “Husst, Agi. Jaga Ucapanmu” tegur Koko.

                Mendengar  respon Agi, membuat Inara kembali bersedih. Ia menundukan kepala  dengan mata kosong.

                “Maafkan aku, Ra. Aku gak bermaksud unt-“

                “Gak apa-apa, Gi. Aku juga berpikiran sama denganmu kok.” Sahut Inara memotong pembicaraan Agi.

                “Apakah tidak bisa menunggu sebentar lagi,Ra? Kenapa terlalu cepat ayahmu menikah lagi?” tanya Koko.

                “Ayah tidak bisa hidup sendiri, itu yang ayah jelaskan padaku” jelas Inara.

                “Nasi sudah menjadi bubur. Sudah lupakan semua pikiranmu terhadap mereka, Ra. Hiduplah bahagian disini bersama kami” jelas Koko.

                “ Tapi, Ko” Sahut Inara.

                “ Sudahlah, Ra. Pemikiran itu akan membuat kamu semakin frustasi. Cobalah membuka hati dan pikiranmu. Biarkan pikiranmu tenang dan bahagia” sahut Agi.

                Tiba-tiba Inara menangis kembali. Ia tidak ingin pergi meninggalkan sahabatnya yang selalu menemani disaat-saat yang paling menyakitkan dihidupnya. Mereka selalu bisa membuat Inara tersenyum.

                “Tapi aku harus kembali ke Jakarta, Gi. Mama masuk rumah sakit. Mama Koma. Mama tidak ada yang merawat. Aku harus kembali menelan pil pait lagi. Aku capek terpontang-panting seperti ini” ucap Inara.

                Koko dan Agi seketika terdiam, mulutnya seakan membiasu. Mendengar kata-kata dri Inara  membuat jantung Koko dan Agi seperti tersambar petir.

                “Apakah tidak ada pilihan lagi, Ra? Sahut Koko pelan.

                Inara tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan munggilnya. Koko dan Agi lantas bertatapan. Seakan mereka bisa berbicara dalam pikiran. Koko dan Agi menganggukan kepala pertanda mereka harus bisa menguatkan Inara.

                “Ra, buka tanganmu dan lihat kami,” pinta Koko.

                Inara lantas membuka tangannya. Ia berusaha membuka kedua matanya yang sembab itu karena terlalu lama menangis.

                “ Kita tahu ini tidak mudah, Ra. Kamu hanya perlu kuat”, ucap Koko.

                “Kamu hanya perlu kuat, untuk berjuang sekali lagi, Ra’ sahut Agi.

                “Kamu sudah besar. Kamu berhak berteriak jika memang ada yang menyakitimu. Aku dan Agi yakin, kamu bisa melewati ini semua” jelas Koko.

                “ Kamu tahu wayang, Ra?” tanya Agi.

                “ Kenapa dengan wayang?” jawab Inara.

                “Wayang itu ibarat anak dan orang tua kita ibarat dalangnya. Kita lahir dari mereka, seperti pada umumnya merekalah yang bisa mengerakan kita mau ke kanan atau kekiri. Jadi kamu jangan pernah menghakimi hidupmu sendiri, Ra” jelas Agi.

                “Benar. Kita sebagai anak memang sepatutnya berbakti kepada orang tua. Banyak keluarga yang bahagia, ada juga yang seperti keluargamu, Ra. Tapi yang perlu kita tahu, tidak akan ada  permasalahan yang tidak mempunyai akhir, Ra” Timpal Koko.

                “Kamu kuat, kamu pasti bisa bangkit lagi.” sahut Agi.

                Perbincangan di Cafe merupakan akhir dari pertemuan ketiga sahabat tersebut. Inara memutuskan kembali ke Jakarta untuk merawat ibunya. Dia disana kembali belajar dirumah dan terus berusaha untuk tetap kuat. Persahaban mereka masih terus berjalan, mereka betiga selalu menyempatkan untuk bercanda-canda melalui sambungan telfon. Koko dan agipun merasa bahagia. Melihat sabahabatnya sudah kembali kuat dan mau bangkit dari keterpurukannya.

Surabaya, 1 Maret 2021

Cerpen karya: Diah Ayu Pitaloka, S.Pd.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

Berita Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru:

GENERASI MUDA

karya: Azzahra Alma Luna (VIII-B) Pemuda adalah harapan masa depan

Di Ujung Labirin

Ia meneguk minumannya  pelan  sambil memandang keluar jendela kamarnya. Tiupan